Tampilkan postingan dengan label inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspiratif. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Agustus 2013

Tentang Makna Sebuah Harapan

Suatu siang seorang ibu membawa pulang anaknya dari sekolah.
Hari itu langit begitu cerah dan langit sangat biru.
Maka, bertanyalah sang anak pada ibunya.

“Ma, apa warna langit?”

“Warnanya biru, Sayang,” jawab sang ibu,

“Mengapa warnanya biru?” tanya lagi gadis kecil itu.

“Ya itu adalah warna yang penuh harapan,” jawab sang ibu.

“Apa itu harapan?” tanya sang gadis kecil.

“Hmm.. Harapan itu sesuatu yang tak bisa kau lihat.
Tapi bisa kau rasakan. Itu adalah hal yang kau inginkan.”

Sang anak pun mengerti.
“Oh, aku mengerti. Seperti aku berharap aku bisa berlari cepat.
Aku berharap bisa melompat tinggi.
Seperti aku berharap aku bisa berenang seperti ikan?”

Sang ibu pun mengangguk dan menjawab, “Mungkin saja.”

Ibu itu kemudian bertanya pada anaknya sesampainya di halte.
Ia bertanya apa yang telah dilakukan anaknya seharian di sekolah.
Sang anak berkata bahwa ia menggambar tentang YOG ( Youth Olimpic Games)
Ia bertanya apakah ibunya tahu tentang YOG.
Sebelum ibunya sempat menjawab , maka anak tersebut menjelaskan.

“Kata Ibu Guru Juwita, YOG adalah sebuah hari perayaan olahraga besar yang diselenggarakan di Singapura. Semua orang akan melihat kita.”

“Lalu apa yang kau gambar?”

“Aku menggambar stadion dengan banyak orang di dalamnya,” ujar gadis kecil itu seraya menunjukkan kertas gambarnya pada sang ibu.
Di kertas itu tertuang gambar khas anak-anak yang masih berantakan namun penuh warna-warni.

“Ini cantik,” kata sang ibu.
“Apa kau menyukainya?” tanyanya.

Anak itu menjawab, “Ya, Bu Guru memberiku nilai A.”

Saat sang ibu sedang mengamati gambar anaknya, tiba-tiba anak tersebut berkata, “Mama, aku ingin pergi ke Youth Olympic Games itu.”
Pertanyaan ini membuat sang ibu sedikit terhenyak.

“Tentu… Ibu akan membawamu ke sana, Tapi, apa yang ingin kau lakukan di sana?” tanya sang ibu.

“Seperti yang selalu kau ajarkan padaku.
Aku tak bisa melihat, tapi aku bisa merasakan.
Aku ingin berada di sana untuk merasakan semua harapan dan impian dari orang lain,” jawabnya.

Mendengar jawaban tersebut, sang ibu langsung memeluk putrinya seraya berkata, “Tentu, aku akan membawamu ke sana.”

*****************************

See ??…….ini adalah percakapan antara seorang anak yang tak bisa melihat dengan ibunya.
Lihatlah betapa dia sangat optimis dan antusias dalam kehidupan sekalipun ia tak bisa melihat.
Ini bukan tentang kepolosan seorang anak kecil, melainkan tentang sebuah harapan.

Banyak orang yang ditimpa masalah, dengan cepat merasa putus asa dan kehilangan harapan.
Namun tahukah Anda, harapan itu selalu ada dan menyertai Anda yang meyakininya.
Harapan bukanlah sesuatu yang bisa Anda lihat sehingga ketika Anda tak melihatnya, lalu Anda merasa tak ada harapan.
Rasakanlah harapan itu di dalam hati Anda.
»»  READMORE...

Bangkit Dari Titik Nol

Ada saatnya nasib baik tak bersahabat dengan kita.
Ini saatnya kita mengelola emosi, modal untuk bangkit dari titik nol.
Hampir semua orang memiliki impian yang menjadi pemicu semangat, hidup lancar tanpa masalah, rumah tangga harmonis, kebebasan finansial, karier di puncak, atau bisnis berkembang.

Namun manusia hanya bisa berencana.
Perhitungan adakalanya meleset jauh dari harapan.
Kegagalan, apapun bentuknya, tentu mengecewakan.
Namun kesanggupan untuk bangkit menjadi penentu keberhasilan.
Masalahnya seberapa siap seseorang mengelola emosi untuk kembali bangkit dan meraih kesempatan berikutnya.

SAAT MERASA TAK BERHARGA

Keahlian mengelola emosi ini tentu saja tidak sama pada tiap orang.
Ada yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa mendapatkan semangat kembali.
Bahkan ada yang memerlukan waktu hingga hitungan tahun.
Sedih, marah, kecewa dan stres tidak bisa terhindarkan saat mengalami kegagalan.

Bagaimana jika mengalami kegagalan karena sebab yang tidak diketahui?
Tetap saja menyisakan rasa resah.
Butuh waktu cukup lama untuk memikirkan dan ‘menerima’ hal di luar perhitungan kita

Tidak hanya kegagalan di bidang pekerjaan atau bisnis saja yang membuat hidup rumit.
Begitu pula dengan kehidupan perkawinan yang gagal (baca : perceraian) dan juga penyakit yang berat semisal; jantung atau kanker, juga tiba tiba kehilangan orang yang amat disayangi ( kematian), dibutuhkan waktu hingga beberapa tahun untuk menata hati dan pikiran kembali.

Saat terpuruk seseorang merasa dirinya dipandang sebelah mata.
Stres bisa bertambah saat lingkungan sekitar bereaksi dengan cara yang salah.
Seperti ingin menunjukkan empati tapi ujungnya malah mengganggu.
Di saat itulah orang harus bisa membaca situasi.
Contohnya banyak bertanya untuk menunjukkan kepedulian, tapi itu justru membuat orang semakin sedih.

DUKUNGAN ORANG TERDEKAT, PENTING!

Pelepasan emosi memang diperlukan.
Ekspresikan emosi sesuai dengan cara dan waktu yang wajar dan bisa diterima oleh orang lain.
Saat mengalami keterpurukan orang terdekat yang biasanya menjadi tempat berkeluh-kesah.
Biasanya orangtua dan sahabat menjadi pilihan untuk berkeluh kesah.
Berusaha menyelesaikan masalah sendiri tidaklah salah, tapi sebagai manusia juga harus mau memberi dan menerima.

BANGKIT LAGI

Banyak hal yang bisa diambil jadi pelajaran seperti perlunya kemampuan untuk mengelola emosi lebih baik lagi.
Untuk itu kehati-hatian jadi perhatian utama.
Apalagi dalam membangun kepercayaan terhadap seseorang.
Kita sering “lupa” pada saat cinta sedang berbunga-bunga, kita “memaksakan” diri bahwa si dia akan berubah.
Namun nyatanya tidak begitu.

Mengenali masalah adalah langkah awal yang baik untuk memperbaiki kesalahan sebelum bangkit kembali.
Sama halnya untuk bangkit dari keterpurukan, untuk berhasil meraih kesempatan kedua pun diperlukan andil dari diri sendiri.
Nasihat atau saran secanggih apapun jika yang bersangkutan tidak bergerak akan percuma, karena hanya kita sendirilah yang bisa menolong diri sendiri.

Bangkit dari masalah bisa lebih mudah jika tidak sampai mengalami trauma.
Bila ada, maka diperlukan bantuan seorang ahli (psikolog) agar dapat kembali berjuang untuk menata hati(emosi) dan pikiran, agar jangan sampai terjadi depresi yang berkelanjutan.

Momentum untuk bangkit justru terjadi saat manusia ada di titik paling rendah.
Anthony Robbins, seorang life coach, pernah mengungkapkan bahwa orang yang terpuruk ibarat pegas yang sudah terinjak dan siap melontar kembali ke atas.
Kesempatan kedua memang bisa dalam bentuk impian yang sama ataupun berbeda.

Pada prinsipnya kita tak boleh berhenti mencoba, tapi kita juga harus memiliki ilmu, meningkatkan skill, dan juga memiliki alternatif dalam hidup.
Jalan orang memang berbeda-beda.
Untuk sampai di titik A ada yang tinggal lurus ada yang harus berkelok-kelok dulu.
Mungkin juga ada yang tidak pernah sampai ke titik A, tetapi menemukan titik B yang ternyata lebih baik baginya.


»»  READMORE...

Cake From GOD

Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan.
Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota.

Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya, dengan senang hati dia berkata,”Tentu saja mom, I love your cake.”

“Nih, cicipi mentega ini,” kata Ibunya menawarkan.

“Yaiks,” ujar anaknya.
“Bagaimana dengan telur mentah?”
“You’re kidding me, Mom.“

“Mau coba tepung terigu atau baking soda?”
“Mom, semua itu menjijikkan”
Lalu Ibunya menjawab,” Ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu.
Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, akan menjadi kue yang enak.

“Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita bertanya kenapa DIA membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan?

Tapi Tuhan tahu jika DIA membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dgn rancangan-NYA, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya.
»»  READMORE...